Mie Instan, Presiden kami

19 Februari 2010 pukul 12:08 | Ditulis dalam puisi | Tinggalkan komentar


Sejak jadi anak kosan, kami begitu setia
Pada hal-hal yang berbau instan: mandi
Instan, tidur instan, belajar instan, serta
Menyeduh mie instan yang sudah
Kami angkat jadi presiden

Kami lupa merknya. Kami cuma ingat irama
Iklannya yang sering kami dengarkan di jeda
Pelajaran dan kardusnya yang kami letakkan
Di atas lemari pakaian, tempat kami menyimpan
Baju-baju, foto-foto, dan asumsi-asumsi
Tiap kebijakan yang sering kami bahas setiap
Kami ingat, kami ingat kami anak kosan yang
Harus baik-baik dalam merencanakan anggaran

“Mie Instan, Presidenku…”

Kami bernyanyi di tiap jalan, teriak di jalan-jalan
Dengan nama-nama yang tertera, tapi tak kami
Kenali. Sampai nama Presiden kami yang asli,
Kami lupa.

Kami disiram gas airmata tiba-tiba, ada yang tak
Suka jika mie instan jadi presiden. Kami berhamburan
Menjerit-jeritkan mie instan dan iramanya
Yang sudah terlanjur melekat di hati kami

Sampai kami kembali ke ruang kelas.

*

Di ruang kelas, kami turunkan foto Presiden yang asli,
Dan kami gantikan dengan mie instan kesukaan kami
Sampai garuda yg menoleh ke kanan itu
Menyunggingkan senyuman, tanda setuju
Mie instan sebagai presiden baru.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: