Aku Nggak Menunggu

25 Februari 2010 pukul 16:30 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bodoh!! Siapa yang percaya sepuluh tahun lagi kamu bakal kembali! Orang paling bodoh di dunia pun tahu, kalau memori manusia ngga akan sesempurna itu menyimpan sebuah janji asal yang terucap oleh seorang remaja sok bisa dipercaya kayak kamu! jeritku dalam hati.

“Heh, jangan bengong gitu,dong. Aku pamit nih, kok diem aja?”
“…bodoh..,” kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“hem?” Bagus menautkan alisnya.
“Kamu pikir, aku bakal percaya? Dengan bodohnya menunggu kamu memenuhi ucapanmu barusan,” aku mengangkat wajahku dan menatapnya lurus-lurus.

baca kelanjutan cerita:

Seolah mengerti, sesungging senyum tipis tergurat di bibir Bagus. “Aku nggak minta kamu nunggu. Aku cuma bilang, jangan kaget aku dateng sepuluh tahun lagi.”

“Dan tetep jadi Bagus yang selama ini aku kenal? Mungkin saat itu kamu inget pernah ketemu aku aja enggak.” Aku berpaling dan memandang ke lantai dua gedung sekolah.

“Get real, Gus. Nggak ada orang yang bisa inget siapa dirinya dulu setelah sepuluh tahun berlalu. Kalau mau pergi, ya pergi aja. Nggak usah pake sok-sok perhatian gitu bilang bakal balik segala. Kamu nggak balik pun aku nggak masalah.” Aku tersenyum sinis. “Jangan berharap aku ada disini semisal kamu balik besok. Aku juga pasti udah bakal ada di suatu tempat, mengejar impianku. Emang cuma kamu yang punya mimpi?” tanyaku enteng.

Bagus terdiam. Ha, dia memang selalu kalah beradu argument denganku. Sejak kami pertama kenal dulu, hampir enam tahun yang lalu.
%# %# %#
Sampai sekarang aku masih menyangsikan ucapan Bagus waktu itu.
“Jangan kaget kalau besok aku dateng.”
Mudah sekali kata-kata itu terucap dari mulutnya, setelah dia membeberkan semua rencana masa depannya.
“…jadi aku sekarang ikut orang tuaku ke Darwin. Nah, nanti selulus SMA dari sana, aku bakal lebih mudah meneruskan kuliah ke Amrik. Aku bakal jadi arsitek handal, Ka. Jangan kaget kalau besok aku dateng. Em… sepuluh tahun lagi cukuplah,” ucapnya waktu itu.

Memangnya dia fikir aku bakal menunggu kedatangannya selama itu? Tentu saja nggak. Ribuan bahkan mungkin jutaan orang bakal dia temui dalam kurun waktu sepuluh tahun, mana mungkin dia masih mengingat sebuah nama yang pasaran seperti namaku. Ika.

Aku ingat trik Bagus agar membuatku yakin dia akan kembali. Dia menitipkan padaku gelang hitam yang biasa melingkar di pergelangan kanannya.

“Simpen baik-baik. Suatu saat aku ambil,” katanya sambil menyodorkan gelang itu padaku.

Aku menatapnya. Mencoba membuatku merasa berdosa jika melupakanmu? Batinku. Tetap diam, aku menerima gelangnya dan bertekad tidak akan menganggap kata-katanya barusan. Begitu berpisah dengan Bagus sore itu, dengan berjinjit-jinjit aku meletakkan gelang itu di bagian atas lemari kotak kerdus makanan di tempat lik Basuki.

“Hei, Ka. Udah waktunya pulang nih. Jangan kerja mulu,” seorang teman menepuk bahuku sambil berlalu.

“Tanggung, Dis. Dikit lagi selesai, kok,” sahutku sambil kembali menekuri layar laptop di hadapanku.

Tak berapa lama kemudian, seseorang datang sambil membawa dua mug teh hangat dan menyodorkan satu ke hadapanku.

“Nih, istirahatin dulu tuh mata.”

Aku tersenyum. “Thanks, Ya,” ucapku sambil menerima mug darinya.
“Belakangan ini kamu lembur terus, Ka?” Tanya Surya sambil bersandar di meja sebelah mejaku dan menyeruput tehnya.

“Kebetulan lagi mood aja nyelesein semua cepet-cepet. Biar cepet dapet promosi keluar,” kilahku setelah menyeruput teh dan kembali memandang screen laptop.

“Masih pengen keluar, Ka? Bukannya baru tahun lalu kamu bantu ngeliput k Singapore?” Tanya Surya.

“Itu kan cuma ngebantu bentar doang, Ya. Aku pengen posisi yang lebih mantap di negeri yang lebih keren juga.” Ujarku sambil memutar kursi menghadap Surya, nggak enak juga diajak ngobrol tapi tetep mantengin kerjaan. Jam delapan lewat dua puluh menit, aku melirik jam tangan.

“Ke Amrik gitu?” Tanya Surya.

Amrik? Sekilas aku teringat seseorang. “Ya nggak mesti Amrik lah, Negara maju di dunia kan banyak. Bisa Jepang, atau Eropa..”
%~%~%
Pekan ini ada tanggal merah dua hari, jadi total bisa libur empat hari. Kangen juga ketemu bapak. Udah berapa lama ya, nggak pulang? Ah, sepertinya aku perlu refreshing juga, jadi ku putuskan hari Rabu besok aku akan pulang ke Magelang

Tiga hari kuhabiskan bersama keluarga di Magelang, selama dalam perjalanan kembali dari Magelang menuju Jogja untuk kemudian naik kereta ke Jakarta, ada sesuatu yang terus membayang dalam pikiranku.

Sepuluh tahun, ini udah sepuluh tahun sejak hari itu. Ah, konyol, mana mungkin, Ka. Dia pasti sedang entah berada dimana sekarang. Apalagi dia tidak pernah mengatakan kapan persisnya setelah sepuluh tahun itu dia akan kembali. Kembali? Memang untuk apa dia kembali? Aku tersentak menyadari pertikaian batinku sendiri. Hhh…, aku menghela nafas.

Aku berdiri menatap gedung putih besar di hadapanku. Aku putuskan mampir sebentar ke sekolahku di pinggiran kota Jogja. Belum banyak yang berubah. Namanya juga sekolah di pinggiran kota, mana mungkin terjadi perubahan besar dalam beberapa tahun. Sekolah ini, tempatku menghabiskan waktu dalam balutan seragam putih abu-abu. Jembatan di depan gerbangnya, adalah tempat dulu dia mengucapkan “perpisahan” padaku. Argh, selama sepuluh tahun ini aku cukup bertahan tidak mengingat-ingatnya, tidak mengingat begitu banyak kejahilan yang dia lakukan padaku sejak SMP, tidak mengingat kenakalan yang kami lakukan bersama – dulu dia sering mengajakku memotong jalan ketika lari jauh di pelajaran olahraga, dan tidak mengingat pertengkaran-pertengkaran kami yang kebanyakan berakhir dengan kemenangan di pihakku.

Tiba-tiba semuanya tergambar jelas, seperti baru kemarin aku mengalaminya. Berdiri di luar kelas selama jam pelajaran terakhir dalam keadaan basah kuyup karena nekat meninggalkan pelajaran setelah istirahat pertama untuk bermain basket di tengah hujan di bekas lapangan belakang sekolah. Waktu itu, kita berdua sama-sama gengsi untuk kelihatan menggigil kedinginan, walaupun keesokkan harinya kita sama-sama kena flu berat. Bagus, Bagus.., terima kasih atas semua kenangan itu. Meskipun aku yakin kamu pasti sudah melupakanku, kenangan-kenangan itu tetap menjadi bagian dari diriku. Aku berjalan meninggalkan gerbang SMA sambil terus berpikir.

Ayah saja, yang sudah terikat pernikahan dengan ibu, bisa begitu mudahnya melupakan ibu dan menikah lagi setelah dua tahun kepergiannya. Aku tidak berkeberatan dengan hal itu, hanya saja aku merasa belum siap menerima kenyataan hingga memilih untuk tidak ikut pindah bersama ayah ke Magelang, tempat istri barunya. Aku lebih memilih untuk tinggal “numpang” di rumah Lik Basuki, yang istrinya adalah sahabat ibu. Sebagai ucapan terima kasih, setiap sore aku bantu-bantu di warung makan sate-nya di dekat pasar. Bersih-bersih, mencuci piring, membakar sate, aku lakukan apapun yang aku bisa, karena lik Basuki tidak mempunyai tenaga bantu selain istrinya sendiri.

Tanpa aku sadari, tinggal beberapa langkah lagi aku sampai ke warung makan Lik Basuki. Ah, kangen juga bertemu dengan beliau berdua. Aku pun mempercepat langkahku.
Warung makan Lik Basuki ini sekarang sudah jadi lebih besar. Anak-anak Lik Basuki pun sekarang ikut membantu pekerjaan orang tuanya. Ketika sedang berbincang dengan Lik Basuki dan istrinya, tiba-tiba ada seorang pelanggan yang minta disediakan makanan nasi kerdus berjumlah 20 kotak.

“Biar aku bantu ambilin kotak-kotaknya ya, Lik,” tawarku sambil beranjak menuju lemari paling besar di warung itu. Masih sama seperti dulu, kotak-kotak yang sudah dibentuk diletakkan di atas lemari itu. Karena di bagian dalamnya adalah tempat menyimpan piring-piring, gelas dan peralatan lain untuk pesanan hajatan.

Tanganku menggapai-gapai tumpukan kerdus. “Duh, sampai sekarang kenapa masih harus jinjit ya?” gumamku pada diri sendiri.

Ah, aku teringat sesuatu. Dengan lebih jinjit aku berusaha meraba-raba sebelah tumpukan kotak kerdus itu. “Dimana benda itu, dulu sepertinya aku taro sekitar sini..”

“Dari dulu sampai sekarang tinggimu nggak tambah-tambah, ya?” sebuah tangan meraih tumpukan kerdus lewat atas kepalaku.

Aku berbalik. “Nih, butuh berapa lagi?” Tanya si pemilik tangan itu.
Pria di hadapanku ini mengenakan celana hitam dan kemeja panjang yang lengannya dilinting. Wajahnya hampir sama seperti terakhir kali aku melihatnya, yang berbeda sekarang jauh tampak lebih dewasa dengan kacamata setengah frame yang bertengger di hidungnya.

“Bagus..”

“Nggak usah terpesona gitu, deh, Ka. Kamu juga udah jauh lebih dewasa dengan setelan blus dan rok itu. Mirip bos-bos perawan tua di kantoran,” ucapnya sambil mendekat ke telingaku.

Aku tersenyum, tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan yang meluap-luap di hatiku.

“Mana?” Tanya Bagus.

“Hem?” aku menautkan kedua alisku. Sesaat kemudian aku menyadari apa maksudnya.

“Di sini. Dulu begitu kamu pergi gelang itu aku taruh disini,” jawabku sambil kembali meraba sambil berjinjit ke atas lemari.

“Kenapa ditaruh disitu? Kenapa nggak disimpen?”

“…” aku tetap berusaha mencari di atas lemari.

“Karena kamu nggak percaya sama kata-kataku.” Bagus menarik pergelangan tangan kananku.

“Aku sudah bilang aku akan kembali. Kembali sebagai Bagus dewasa yang bisa membuktikan semua ucapanku, bukan Bagus yang dengan bodohnya meminta seseorang menunggu.” Bagus memakaikan gelang hitam yang aku cari-cari itu di pergelanganku. Belakangan baru aku tahu bahwa Bagus menemukan gelang itu
tepat sebelum keberangkatannya ketika pamit pada Lik Basuki.

“karena aku tahu, tanpa aku minta menunggu pun, kamu akan melakukannya untukku.”

Selesai

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: