Melepas Rindu di Warung Nasi Kapau

25 Februari 2010 pukul 06:29 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Sepotong Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, setiap kali Ramadan berubah bak pasar malam. Sudah puluhan tahun pinggiran jalan yang tak jauh dari perempatan menuju Kampung Melayu, Senen, Kwitang, dan Cempaka Putih itu memberi warna tersendiri di situ. Meski sebetulnya sejak siang kawasan itu ramai, tapi menjelang petang keriuhan bertambah. Sinar lampu berjajar di sepotong jalan itu, seperti memanggil-manggil orang yang kebetulan lewat. Mereka yang rindu kampung halaman atau sekadar teringat cita rasa salah satu makanan khas Padang pun rela menghentikan langkah.

Keberadaan sederet warung nasi kapau di pinggir jalan yang hanya sepelemparan batu dari bioskop tua Grand itu bisa jadi biasa saja bagi orang yang setiap hari lalu lalang di sana. Tapi tidak demikian bagi mereka yang punya ikatan batin dengan menu-menu yang tersedia di situ. Di luar Ramadan, deretan warung itu siap menerima pengunjung 24 jam setiap hari. Selama Ramadan, warung-warung itu rata-rata baru buka pukul 14.00 hingga sahur menjelang.

Suasana malam rasanya lebih pas untuk warung-warung di tempat tersebut. Pasalnya, selain kesibukan di siang hari yang makin mereda, sinar lampu yang muncrat dari kedai-kedai itu pun menyedot perhatian orang. Orang jadi lebih ngeh dengan keberadaan mereka ketika sore mulai beranjak pergi.

Adalah Hj Nasir, istri Nasir, yang sudah mulai berdagang di sana sejak tahun 1970-an. Warungnya yang bernama Nasi Kapau Sabana Bana ada di antara deretan warung yang ada. Sudah jadi kebiasaan pula, selama Ramadan, tempat itu menambah riuh jalan ketika tiba waktu berbuka dan sahur.

Berbagai penganan buka puasa juga tersedia. Lebih spesial lagi karena kudapan yang ada di tempat itu semua khas Ranah Minang. Sebut saja bubur kampiun, lemang tapai, atau es tebak (es campur khas Minang). Bubur kampiun adalah campuran kolak pisang, bubur sumsum, candil, ketan putih, dan sarikaya telur, yang kemudian diguyur gula merah cair.

Sarikaya telur yang dimaksud adalah adonan telur bebek, ayam, gula aren, santan, dan pandan. Beraroma campuran manis dan wangi, tentu saja menggoda untuk dicicipi. Lemang tapai tak lain adalah ketan yang diberi santan kemudian dibakar selama dua jam. Uniknya ketan ini dimasukkan ke dalam bambu. Dimakan bersama tape ketan hitam. Sementara es tebak adalah es campur dengan isi utama tebak, semacam cendol yang terbuat dari beras. Tebak berwarna putih dan lebih panjang dan tebal serta tidak lembek.

Menurut Hj Nasir, ada cerita di balik nama bubur ‘kampiun’. “Dulu penjual bubur ini di pacuan kuda, Bukitinggi. Iklannya kira-kira bunyinya: kalau makan bubur ini jadi juara, kampiun, gitu,” katanya. Jadilah nama kampiun melekat hingga sekarang.

Banyak menu
Selain tiga makanan khas tadi, di warung itu digelar lebih dari 20 menu khas Minang. Bebek cabai hijau, telur ikan, dendeng basah cabai hijau, gulai kepala kakap, rendang sambal hijau, adalah sedikit dari menu khas yang siap menggenapi kerinduan Anda pada kampung halaman. Soal rasa, semua pantas dicoba. Tapi andalan di warung ini, ya, yang disebut di awal tadi, yakni bebek cabai hijau, dendeng basah cabai hijau, sup tulang iga, dan telur ikan.

“Di sini juga ada ikan bilis, ikan air tawar. Belum tentu di restoran-restoran besar ada,” ujar M Ali, putra Hj Nasir. Ikan bilis itu kecil-kecil kemudian digoreng kering atau diberi sambal. Semua itu bisa dibeli tanpa menguras kocek. Dengan Rp 8.000-Rp 20.000 bisa kenyang dan puas. Harga yang dibayar terutama tergantung lauk yang dimakan.

Di sana juga dijual rendang merah, rendang yang tidak dimasak terlalu lama. Rendang model ini agak jarang ditemukan karena kebanyakan rendang dimasak hingga berwarna gelap.

Meski warung-warung di kawasan itu ‘hanya’ warung tenda, pembeli tak perlu takut tak kebagian tempat, sebab tempatnya cukup luas. Kursi panjang dipasang berjajar menemani meja panjang. Calon pembeli juga bebas memilih warung mana yang akan didatangi di sepotong jalan itu, sebab tiap warung punya menu khasnya sendiri.

Tapi, menurut Hj Nasir, soal nama Nasi Kapau Sabana Bana, punya arti tersendiri. Maksudnya? “Ini yang sebenar-benarnya. Sabana bana itu sebenar-benarnya. Kita memang yang pertama jual nasi kapau di sini,” tandasnya. Pembeli yang ingin membawa pulang lauk juga banyak. Biasanya untuk sahur. Tapi untuk makan besar setelah buka puasa juga tak sedikit.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: