Rujak Ala Encim di Pancoran (2)

25 Februari 2010 pukul 07:22 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Ahung, putri terkecil dari Encim, melanjutkan usaha Ibunya sejak sekitar 20 tahun lalu. Warung rujak ini memang awalnya tanpa nama sampai akhirnya punya nama Encim dan berakhir menjadi Rujak Shanghai Encim. ”Mama udah enggak ada. Saya emang dari dulu udah sering bantuin mama. Jadi udah tau racikannya,” kata Ibu dua putra ini.

Jaman boleh berubah tapi rujak racikan mamanya tak boleh berubah. ”Semuanya sama dari saya masih kecil. Semua kita bikin sendiri saosnya. Kalau juhi sama ubur-ubur dari sini aja,” lanjut nenek satu cucu ini.

Meski nama makanan ini sudah sampai ke luar Jakarta bahkan Indonesia, perempuan yang sejak lahir tinggal di Jembatan Dua ini tak ingin melebarkan sayap ataupun mengubah gaya warung yang seperti warteg. Tentu saja tak perlu dilakukan. Biarkan orang yang penasaran, berupaya mencari rujak ini ke biangnya. Bukankah upaya mencari letak tempat makan legendaris jadi bagian dari seni kuliner itu sendiri? Kemudian melahap makanan itu di lokasi asli tentu jadi nilai tambah tersendiri.

”Pelanggan saya yang sekarang udah pindah, jauh-jauh juga bela-belain ke sini. Kangen, katanya. Yang udah di luar negeri juga kalo lagi pulang, pasti ke sini,” imbuhnya, ”Ada yang pikir kita udah enggak jualan karena dia carinya di ujung sebelah sana (ke arah Jalan Pintu Kecil) di pinggir jalan. Pas jalanan udah dibenerin. Padahal kita masih ada, cuma pindah ke sini aja.”

Bicara soal jam buka yang kini harus seharian, Ahung berkisah sambil bernostalgia, kawasan ini dulu sekali sempat sangat ramai. ”Bioskop-bioskop masih ada, di seberang (sekarang gedung Chandra-Red) dulu masih ada bioskop juga. Namanya Park Gembel. Tau deh kenapa begitu namanya. Masih ada midnight sampai pagi jadi rame trus orang dagang makanan juga rame. Kalau sekarang kita buka dari jam 16.00 cuma sebentar aja jualannya. Kalau dulu kan biar bukanya jam 16.00 tapi rame terus sampe malem,” tambahnya, seperti berharap, ”Tau, bisa enggak kembali seperti dulu.”

Tentu saja bisa, asal ada kemauan, yang tak berhenti di bibir saja, dari Pemprov DKI Jakarta untuk mengembalikannya menjadi kawasan Pecinan yang sejati, yang hidup, terus bergulir, dan bersemarak sepanjang hari.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: