Perlu Ruang Kreatif yang Terjangkau

4 Maret 2010 pukul 01:02 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
“Apakah saya masih menikmati kehidupan yang saya jalani sekarang?” Sebuah pertanyaan yang sama, yang setiap pagi menjadi awal dari kehidupan seorang Doreen Westphal. Pertanyaan itu bagaikan sebuah system check. Sebuah sistem peringatan bagi diri sendiri sebelum ia memutuskan, apakah akan beralih ke proyek baru, ke studio baru, bahkan beringsut ke kota baru. Tentu saja keputusan itu akan diambil tatkala pertanyaan yang mengawali harinya itu lebih banyak terjawab, “No” – “Tidak”.

Doreen, berasal dari sebuah kota di bekas Jerman Timur yang kemudian memutuskan pindah ke Berlin untuk belajar menjahit. Perjalanannya berlanjut ke Nottingham di mana ia belajar desain panggung sebelum akhirnya menetapkan hati mendarat di Amsterdam. Di kota itu ia memulai pekerjaan sebagai perancang. Sebuah kerja kreatif. Doreen memilih Amsterdam karena, menurut dia, kota itu “ramai”, “seru”, “hidup”, “bergairah”.

Di studionya, di sebuah gedung bekas kantor pusat harian De Volkskrant, ia menganyam kreasi pada sebuah tas berbahan ban bekas dan kasur udara. Awalnya, secara iseng ia berkreasi, menjahit sendiri sebuah tas dari bahan tersebut di atas sebagai hadiah ulang tahun buat seorang teman. Teman ini, kemudian, kebetulan melintas di depan sebuah butik, dan ketika mata pemilik butik tertumbuk pada tas tadi, ia pun mengejar sang pemilik tas sambil bertanya, “Di mana saya bisa pesan tas seperti itu.” Bisa ditebak kelanjutannya. Itu hanya salah satu dari kreasi Doreen.

Demikian Majalah Der Spiegel edisi Agustus 2007 memotret Amsterdam sebagai salah satu kota kreatif dunia yang terus tumbuh. Kota ini giat membina aset ekonomi yang paling penting, yaitu kekuatan kreatif yang multikultur.

Doreen, dan pekerja kreatif lain di Amsterdam, menjadi bagian dari “kota yang seru” tadi, plus, ikut andil dalam membangkitkan ekonomi Amsterdam. Ia juga jadi bagian yang menghidupkan gedung tujuh lantai – Gedung Volkskrant – dari tahun 1960-an, di mana studionya berada. Sebuah gedung yang kemudian jadi penuh warna dengan para pelukis, tukang kayu, orang-orang dari studio berlabel hip hop yang semuanya mulai “menyembur”, menghembuskan sekumpulan asap dari lintingan ganja.

Bureau Broedplaatsen, dibentuk oleh pemerintah Kota Amsterdam, memantau gedung-gedung yang disewakan bagi pekerja kreatif – seperti Gedung Volkskrant – dan memberi subsidi untuk pemeliharaan. Hingga tahun 2007, kota sepeda ini sudah menggelontorkan 50 juta Euro (sekitar Rp 630 triliun- kurs Rp 12.600) untuk menumbuhkan kelas kreatif. Pertumbuhan di sektor individu pun luar biasa. Ada 8.000 orang bekerja di bisnis seni dan sektor jasa kreatif menciptakan 9.000 pekerjaan baru – dibandingkan 10 tahun sebelumnya, jumlah itu meningkat lebih dari sepertiganya. Sementara 12.000 orang bekerja penuh waktu di sektor media.

Pada situs resmi Bureau Broedplaatsen disebutkan, biro bentukan pemkot Amsterdam tadi bertugas mencari dan mengembangkan studio-studio, ruang hidup dan ruang kreatif yang terjangkau bagi para seniman dan pengusaha di bidang budaya. Tapi si biro tak memiliki studio atau ruang hidup dan ruang kreatif untuk disewakan.

Bicara soal ruang kreatif yang terjangkau, Charles Landry dalam The Creative City menyebutkan, orang-orang kreatif perlu diberi satu tempat. Kota kreatif memerlukan lahan, bangunan dengan harga terjangkau. Bagaimana dengan Jakarta?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: